"Hmmm, info menarik nih", pikir saya. Lalu saya coba merangkai setiap tweet demi tweet beliau, saya rangkum dan saya satukan untuk saya jadikan sebagai reminder saya kelak ketika saya punya anak. Kurang lebih begini rangkumannya:
Ada anak yang ketika kecil nakal sekali, saat dewasa justru menjadi orang besar yang kehadirannya memberi manfaat bagi ummat manusia. Tetapi ini bukan berarti untuk menjadi orang besar, masa kecilnya harus nakal. Banyak orang besar yang sejak kecil sudah sangat baik. Tak sedikit dalam sejarah, orang-orang yang membawa kerusakan di masa dewasa, ternyata saat kecil telah menunjukkan perilaku nakalnya.
Bermula dari masa kecil yang tak tertangani dengan baik, keburukan itu melekat padanya hingga masa dewasa. Ia rusak dan merusak orang lain. Menyederhanakan masalah bahwa kenakalan anak bermanfaat untuk keberhasilannya di masa dewasa, merupakan kesimpulan yang terlalu gegabah. Sederhana itu memang tanda bijaksana (simplex veri sigillum), tapi terlalu menyederhanakan persoalan tanda kurang wawasan & dangkal berpikir.
Sama kelirunya menganggap kenakalan anak merupakan pertanda masa depan yang sangat buruk. Ini juga terlalu menyederhanakan masalah. Belakangan ini banyak orangtua maupun guru yang menghindari kata nakal dengan keyakinan bahwa itu justru menjadikan anak benar-benar nakal. Mereka bersibuk menghalus-haluskan kata, mengindah-indahkan istilah sehingga justru semakin membingungkan. Bukan menyelesaikan akar masalah. Sesungguhnya menghapuskan kata nakal sama sekali berbeda dengan mengatasi kenakalan. Kekhawatiran para pendidik terhadap istilah nakal agaknya bermula dari kerancuan antara memahami kenakalan dengan menjuluki nakal.
semoga bermanfaat bagi semuanya :)

0 komentar:
Posting Komentar